Bandar Lampung — Universitas Bandar Lampung (UBL) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus berorientasi internasional dengan menghadirkan akademisi dari Cardiff University dalam kegiatan International General Lecture bertajuk Digital Transformation and AI-Driven Business Strategy yang berlangsung di Auditorium Kampus Pascasarjana UBL pada 12–13 Mei 2026.
Kuliah umum internasional tersebut menghadirkan Dr. Prabirendra Chatterjee, Dosen marketing Cardiff University, yang membahas transformasi digital, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), inovasi teknologi, hingga strategi bisnis modern berbasis data dan teknologi.
Dalam paparannya, Dr. Prabirendra menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah memasuki fase transformational innovation, yakni perubahan besar yang tidak hanya melahirkan produk baru, tetapi juga mengubah ekosistem industri, model bisnis, dan perilaku masyarakat secara menyeluruh. Ia mengaitkan fenomena tersebut dengan teori creative destruction dari ekonom Joseph Schumpeter yang menegaskan bahwa inovasi akan terus menciptakan pembaruan sekaligus menggantikan sistem lama.
Menurutnya, AI kini menjadi salah satu teknologi paling transformasional yang mendorong perubahan di berbagai sektor, mulai dari bisnis, pendidikan, kesehatan, hingga industri kreatif. Teknologi seperti Machine Learning, Large Language Models (LLM), dan AI generatif bahkan telah berkembang menjadi General Purpose Technologies (GPTs), layaknya listrik dan komputer pada era sebelumnya.
“Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Organisasi yang mampu beradaptasi cepat terhadap perkembangan teknologi akan memiliki keunggulan kompetitif di masa depan,” ujar Dr. Prabirendra di hadapan ratusan peserta kuliah umum.
Ia juga menyoroti pentingnya dynamic capabilities dalam organisasi, yakni kemampuan membaca peluang teknologi (sensing), memanfaatkan peluang (seizing), serta terus mentransformasikan model bisnis (transforming) agar mampu bertahan dalam kompetisi global yang semakin dinamis.
Dalam presentasinya, Dr. Prabirendra mencontohkan transformasi perusahaan global seperti Amazon, Microsoft, dan Netflix yang berhasil tumbuh melalui inovasi dan adaptasi teknologi secara konsisten.
Selain membahas peluang, ia juga menyoroti tantangan besar perkembangan AI, mulai dari isu privasi data dan keamanan siber, bias algoritma, dominasi perusahaan teknologi global, hingga tingginya konsumsi energi akibat pesatnya perkembangan teknologi digital modern. Menurutnya, masa depan inovasi harus diarahkan tidak hanya pada efisiensi bisnis, tetapi juga keberlanjutan dan manfaat sosial yang lebih luas.
“Generasi inovasi berikutnya bukan lagi sekadar berbicara tentang apa yang bisa didisrupsi, tetapi apa yang harus ditransformasikan untuk menjawab tantangan global seperti perubahan iklim, keberlanjutan energi, dan kesejahteraan sosial,” katanya.
Rektor UBL, Prof. Dr. M. Yusuf S. Barusman, MBA, mengatakan kehadiran akademisi dari Cardiff University menjadi bagian dari upaya UBL menghadirkan wawasan global sekaligus memperluas jejaring kerja sama internasional di bidang pendidikan dan riset.
“UBL terus memperkuat kolaborasi internasional guna menghadirkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan dunia global dan kebutuhan industri masa depan. Kuliah umum ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memahami transformasi teknologi dan peluang AI di era digital,” ujarnya.
Kegiatan tersebut mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa S1, S2, dan S3 serta sivitas akademika UBL karena mengangkat isu strategis mengenai masa depan bisnis digital dan perkembangan AI global. Selain kuliah umum, kunjungan delegasi Cardiff University juga menjadi bagian dari penjajakan kerja sama internasional antara kedua institusi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.
Cardiff University dikenal sebagai salah satu universitas ternama di Inggris dengan reputasi kuat dalam bidang riset dan pendidikan internasional. Melalui Cardiff Business School, universitas tersebut dikenal sebagai The Public Value Business School yang menempatkan dampak sosial dan nilai publik sebagai bagian penting dalam pendidikan dan penelitian.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat langkah UBL dalam membangun jejaring global bersama berbagai universitas internasional dari Inggris, China, Jepang, Rusia, Prancis, Jerman, Turki, dan sejumlah negara lainnya sebagai bagian dari visi UBL menjadi kampus berdaya saing internasional.
Sebagai bentuk konkret internasionalisasi pendidikan, UBL juga telah menjalankan berbagai program global, salah satunya melalui program sandwich 2+1+1 bersama Guilin University of Aerospace Technology di Cina dan The University of Kitakyushu di Jepang.
Melalui program tersebut, mahasiswa menjalani studi selama dua tahun di UBL, kemudian melanjutkan perkuliahan selama satu hingga dua semester di universitas mitra luar negeri sebelum kembali menyelesaikan satu tahun studi di UBL. Program ini menjadi bagian dari komitmen UBL dalam menghadirkan pengalaman pendidikan internasional dan memperluas wawasan global mahasiswa sejak di bangku kuliah.






